Kisah hantu plenger

Di sebuah kampung kecil yang jauh dari hiruk pikuk kota, diceritakan setiap malam Jumat Kliwon. Cerita itu bukan tentang kuntilanak atau pocong, melainkan tentang satu makhluk yang jauh lebih… membingungkan: Hantu Plenger.

Konon katanya, Hantu Plenger adalah roh penasaran yang tidak menyeramkan secara klasik. Ia tidak menjerit, tidak membawa rantai, apalagi muncul dengan darah di wajah. Justru masalahnya, dia muncul sambil… nyengir lebar tanpa alasan, lalu melotot sendiri, lalu tertawa, lalu bingung lagi. Intinya, plenger itu bukan hantu galak, tapi hantu yang kayak salah masuk genre.

Penduduk kampung LOGOTOTO awalnya tidak terlalu percaya. Sampai suatu malam, Pak Darto, seorang petani singkong yang terkenal paling skeptis soal hal mistis, mengalami sendiri kejadian aneh itu.

Malam itu, Pak Darto pulang larut setelah menjaga kebun dari serangan babi hutan. Langit gelap, angin dingin, dan hanya suara jangkrik yang jadi teman perjalanan. Ketika melewati jembatan bambu dekat sungai kecil, tiba-tiba dia mendengar suara ketawa.

“Hehehe… hehehe…”

Pak Darto berhenti. “Siapa itu? Kalau maling, saya lempar cangkul, ya!”

Tidak ada jawaban. Tapi suara itu muncul lagi, lebih dekat.

“Hehehe… tapi… eh… hehehe bingung aku…”

Pak Darto mengernyit. “Lah, maling kok bingung?”

Tiba-tiba, dari balik pohon pisang, muncul sosok putih melayang. Wajahnya pucat, matanya besar, tapi ekspresinya… seperti orang salah jawab soal ujian.

“Eh… kamu lihat aku tidak?” tanya hantu itu.

Pak Darto diam. “Ya jelas lihat lah! Kamu nongol di depan muka saya!”

Hantu itu langsung plenger. Mukanya berubah jadi senyum lebar, lalu mendadak serius, lalu senyum lagi. “Oke bagus. Aku berhasil terlihat. Tapi… aku harusnya menakutkan atau lucu ya?”

Pak Darto mulai sadar ini bukan hantu biasa. “Lho, kamu hantu apa sebenarnya?”

“Aku… Hantu Plenger,” jawabnya bangga, lalu berhenti sejenak. “Atau… setidaknya itu kata makhluk di alam sana. Aku juga masih belajar.”

Pak Darto menghela napas panjang. “Ya ampun… hantu aja masih pemula.”

Sejak malam itu, kabar tentang Hantu Plenger menyebar ke seluruh kampung LOGOTOTO LOGIN. Tapi bukan membuat orang takut, justru membuat orang penasaran. Bahkan ada anak muda bernama Jono yang terkenal paling iseng se-kampung, sengaja mencari hantu itu.

“Kalau hantu lain bikin lari, ini hantu bikin konten,” kata Jono sambil membawa HP untuk merekam.

Malam berikutnya, Jono datang ke jembatan yang sama. Dia duduk santai sambil makan kerupuk.

“Plenger… plenger… sini dong kalau berani,” teriaknya.

Tiba-tiba, muncul suara dari belakang.

“Eh aku tadi di belakang, tapi kamu manggilnya ke depan… jadi aku bingung harus muncul di mana.”

Jono langsung menoleh. Hantu Plenger sudah berdiri—atau melayang—di sampingnya.

“Woy! Kenapa kamu nggak serem sih?” kata Jono.

Hantu itu berpikir sejenak. Wajahnya berubah serius… lalu berubah lagi jadi senyum. “Aku sudah latihan serem tadi siang di pohon beringin, tapi katanya kurang natural.”

Jono malah tertawa. “Hantu model begini mah cocok jadi stand up comedian.”

Sejak itu, Hantu Plenger malah jadi semacam “warga tidak resmi” di kampung LOGOTOTO DAFTAR tersebut. Dia sering muncul di tempat yang salah, waktu yang salah, bahkan kadang di situasi yang tidak jelas.

Pernah suatu kali, Bu Sari sedang masak di dapur. Tiba-tiba Hantu Plenger muncul di belakangnya.

“BUUU!” katanya mencoba menakut-nakuti.

Bu Sari menoleh pelan. “Kamu ngapain di dapur saya?”

Hantu Plenger langsung kaget sendiri. “Eh aku lupa harusnya muncul di kamar mandi!”

Lalu dia menghilang dengan ekspresi malu.

Ada juga kejadian ketika Pak RT sedang rapat warga. Tiba-tiba lampu mati, dan suara misterius terdengar.

“Aku datang… untuk menakut-nakuti kalian…”

Semua warga diam.

Lalu suara itu lanjut, “Tapi aku lupa teksnya… bentar ya…”

Lampu menyala lagi, dan Hantu Plenger terlihat sedang memegang kertas bertuliskan “script hantu menakutkan level 1”.

Pak RT langsung tepuk jidat. “Hantu kok pakai script!”

Meski aneh, lama-kelamaan Hantu Plenger jadi bagian dari kehidupan kampung. Anak-anak bahkan sering memintanya muncul hanya untuk hiburan malam.

“Bang Plenger, bisa muncul tapi sambil joget nggak?” tanya anak-anak.

“Aku belum unlock skill itu,” jawabnya serius.

Namun tidak semua orang senang. Ada seorang dukun kampung LOGO TOTO bernama Mbah Wiryo yang merasa keberadaan Hantu Plenger merusak “ekosistem hantu tradisional”.

“Ini tidak bisa dibiarkan! Hantu harusnya menakutkan, bukan jadi badut!” katanya marah.

Mbah Wiryo mencoba melakukan ritual untuk “mengembalikan aura seram” Hantu Plenger. Ia membakar kemenyan, membaca mantra, dan menabuh gong.

Hantu Plenger muncul dengan ekspresi bingung. “Aku harus jadi serem sekarang?”

“Iya! Tunjukkan aura kegelapanmu!” kata Mbah Wiryo.

Hantu Plenger mencoba. Dia mengerutkan wajah, memutar mata, dan mengeluarkan suara “grrhh…”

Tapi karena terlalu dipaksa, dia malah bersin. “HATCHIM!”

Asap kemenyan langsung buyar. Semua orang terdiam.

Lalu Hantu Plenger berkata pelan, “Aku rasa aku lebih cocok jadi hantu biasa aja deh…”

Sejak hari itu, Mbah Wiryo menyerah. Katanya, “Ini satu-satunya hantu yang bisa bikin ritual jadi gagal karena bersin.”

Kini Hantu Plenger tetap tinggal di kampung itu. Dia tidak menakut-nakuti orang lagi, lebih sering membantu hal-hal kecil seperti menyalakan lampu yang mati, atau mengingatkan warga kalau pintu belum dikunci.

Walaupun begitu, kadang-kadang dia masih muncul di tempat yang salah dan waktu yang tidak tepat.

Seperti pernah suatu malam, Pak Darto sedang makan mie instan sendirian. Tiba-tiba Hantu Plenger muncul.

“Eh, aku lapar… boleh ikut makan nggak?”

Pak Darto menatapnya. “Kamu hantu atau mahasiswa kos?”

Hantu Plenger berpikir lama. “Aku… tidak yakin.”

Dan dari situlah, kampung itu hidup berdampingan dengan hantu paling tidak konsisten dalam sejarah dunia gaib: Hantu Plenger, si penakut yang gagal jadi menakutkan, tapi berhasil jadi legenda lucu yang tidak pernah dilupakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *